Postingan

Menghormati Relik Sang Buddha

Gambar
Setelah jenazah Sang Buddha selesai dibakar, Relik (sisa jasmani hasil pembakaran ) Beliau dibagi-bagikan. Salah seorang yang mendapatkan Relik Buddha adalah Raja Ajatasatthu. Raja ini kemudian membangun stupa besar di kota yang bernama Rajagaha, guna menyimpan Relic yang didapatkannya. Suatu hari ada seorang wanita ( namanya tidak disebutkan ) mau datang untuk mempersembahkan bunga buat Relik Buddha di stupa itu. Masih di tengah perjalanan, belum sampai di stupa tempat relic, ia ditanduk sapi sampai meninggal. Lalu ia muncul kembali sebagai Dewi ( Dewa perempuan) di surga Tavatimsa ( Surga tingkat 2 ) Saat itu, Dewa Sakka ( Raja Dewa yang menguasai surga Tavatimsa ) melihat wanita ini muncul sebagai Dewi. Kemudian Sakka bertanya pada Dewi baru ini : “ Apa yang anda lakukan sewaktu menjadi manusia, sehingga anda bisa muncul disini ? “ Si Dewi menjawab : “ Saya mau mempersembahkan bunga buat Relic Buddha. Bunga tanaman Kosataki, yaitu sejenis tanaman rambat liar yang tidak ada harganya...

Meditasi Pernapasan Dalam Agama Buddha

Gambar
Manusia bernapas jika berada di darat, burung bernapas di udara, ikan bernapas di air. Mereka berbahagia di alamnya masing-masing. Tanpa alat manusia tidak bisa bernapas di dalam air. Demikian juga burung tidak bisa bernapas di dalam air. Ikan pun tidak bisa bernapas di darat. Ikan akan mati jika terlalu lama di daratan. Semua yang hidup perlu bernapas. Bernapas itu bahagia Seorang penyelam memerlukan alat untuk bernapas. Alat itu berupa tabung oksigen. Alat-alat yang digunakan harganya mahal. Begitu juga oksigen yang ada di dalamnya, harganya pun juga mahal. Biaya yang dikeluarkan seorang penyelam untuk waktu berjamjam pasti mahal. Beruntunglah kita yang bisa bernapas di daratan dengan normal. Tidak perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Kita dapat menghirup dan menghembuskan napas semaunya. Bernapas di alam bebas tidah perlu membayar. Kita bisa menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mensyukuri kebahagian dapat bernapas karena udara selalu ada di sekitar kita. Tetapi, pernahkan kita memper...

Tiga Ciri Kehidupan Dalam Agama Buddha

Gambar
Tiga Ciri Kehidupan (Tilakkhana) Kehidupan ditandai oleh tiga ciri seperti dikatakan oleh Buddha dalam Anguttara Nikaya, Yodhajiva-Vagga 124, yaitu bahwa segala sesuatu tidak kekal, tidak memuaskan, dan tanpa inti. Tiga ciri kehidupan ini disebut Tilakkhana . Ia juga sering diartikan sebagai tiga corak umum. Tiga ciri tersebut adalah tiga sifat yang menjadi ciri segala sesuatu yang ada di alam semesta, yaitu bahwa segala sesuatu selalu berubah (Anicca), tidak memuaskan dan menimbulkan penderitaan (Dukkha) dan tanpa inti yang kekal (Anatta). 1. Ciri Selalu Berubah (Anicca) Perhatikanlah segala sesuatu di sekitarmu, misalnya tumbuh-tumbuhan. Apakah pohon kelapa bisa langsung besar dan berbuah? Tentu tidak, bukan? Apakah gedung sekolah yang kamu tempati ini langsung jadi? Apakah kamu bisa langsung besar seperti sekarang? Apa akibatnya kalau buah kelapa tidak tumbuh-tumbuh? Apa akibatnya jika gedung sekolah ini hanya berupa pondasi? Bagaimana jika kamu menjadi bayi terus? Kebenaran tentang...

Belajar Lemah Lembut dan Baik Hati Dalam Agama Buddha

Gambar
Kisah Raja Gajah yang Baik Hati (Jataka 72) Pada suatu ketika Boddhisattva dilahirkan sebagai seekor gajah. Gajah tersebut berwarna putih cemerlang dan bersinar bagaikan perak yang dipoles. Kakinya mengkilap seperti sebuah kayu yang divernis. Mulutnya merah, bola matanya sangat mengagumkan bersinar dalam lima warna, yaitu biru, kuning, merah, putih, dan merah tua. Keindahan yang luar biasa tentang gajah yang istimewa ini dibarengi oleh keluhuran budinya yang jujur, bijaksana, sabar, murah hati, penuh cinta kasih, memiliki keyakinan yang benar, dan tidak melekat dengan apa yang dimilikinya. Sifat-sifat ini telah dipraktikkannya sejak kehidupan-kehidupan lampaunya yang tak terhingga. Karena kebaikannya itu, ia dikenal dengan nama Raja Gajah yang Baik Hati. Ketika gajah ini dewasa, semua gajah lainnya yang berada di hutan datang untuk mengikuti dan melayaninya. Tidak lama kemudian, pengikutnya berjumlah delapan puluh ribu ekor gajah. Sayang, karena jumlah gajah yang begitu besar, membuat ...

Kepandaian Pangeran Siddharta

Gambar
Sekolah sangat penting demi masa depan. Dengan bersekolah masa depan menjadi cerah. Demikian juga Pangeran Siddharta. Dalam topik ini kamu akan mempelajari masa-masa bersekolah Pangeran Siddharta. Setelah mempelajari topik ini diharapkan kamu dapat mengetahui berbagai kecerdasan yang dimiliki Pangeran Siddharta. Mau mengikuti keteladanan Pangeran Siddharta sehingga kamu menjadi anak yang terampil berpikir dan belajar seperti Pangeran Siddharta. Pangeran Siddharta Bersekolah Pangeran Siddharta anak yang periang, sama seperti anak-anak jaman sekarang. Pangeran Siddharta juga bersekolah menuntut ilmu. Pada usia 8 tahun Pangeran Siddharta bersekolah. Pangeran Siddharta tidak bersekolah di sekolah formal, ia bersekolah di sekolah nonformal. Pangeran Siddharta bersekolah di taman istana kerajaan. Gurunya diundang untuk mengajar Pangeran Siddharta, ia bernama Wiswamitra. Ia terkenal ahli dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pangeran Siddharta seorang anak yang pandai dan ...

Swastika Dalam Agama Buddha

Gambar
Swastika (Svastika) berasal dari bahasa Sanskerta ‘su’ yang artinya menjadi; dan ‘ka’ sebagai akhiran. Jadi, swastika memiliki arti ‘keadaan menuju baik’. Swastika terdiri atas sebuah palang dengan panjang ke empat lengan yang sama. Ujung setiap lengannya mengarah kearah kanan. Terkadang beberapa titik ditambahkan pada masing-masing lengannya Swastika merupakan symbol kuno yang telah digunakan oleh berbagai budaya untuk melambangkan kehidupan, matahari, kekuasaan, kekuatan dan keberuntungan. Begitu pula dalam tradisi ajaran Agama Buddha, swastika melambangkan hal-hal yang baik dan positif. Selain itu, swastika juga merepresentasikan jejak kaki Guru Agung Buddha (Buddhapada). Swastika kerap kali digunakan sebagai tanda atau icon dalam sebuah teks Buddhis. Di Republik Rakyat Cina dan di Jepang, swastika digambarkan sebagai symbol kemajemukan, kebahagiaan, kesejahteraan dan umur yang panjang. Saat ini, swastika masih digunakan sebagai tanda istimewa pada patung-patung Guru Agung Buddha d...

Cara Hormat Dan Salam Dalam Agama Buddha

Gambar
Cara Hormat Dalam Salam Apa yang diucapkan seorang umat Buddha sebagai ucapan salam Buddhis kepada sesamanya atau kepada masyarakat umum saat berjumpa? Dan apa yang diucapkan sebagai bentuk ungkapan rasa empati kepada kerabat dan kenalan sesama umat Buddha yang sedang berada dalam suasana duka? Dalam dokumen Kesepakatan Sangha Theravada Indonesia (STI) Nomor: 016/STI/VI/2015 dan ditandatangani oleh Y.M. Bhikkhu Jotidhammo Mahathera sebagai Sanghanayaka (Ketua Umum) pada 19 Juni 2015 di Balikpapan, STI menyampaikan beberapa hal terkait dengan kalimat apa yang diucapkan umat Buddha sebagai salam Buddhis maupun salam umum beserta contoh penerapannya. 1. Salam Buddhis dan Salam Umum Ditujukan kepada sesama umat Buddha, kata salam Buddhis yang digunakan adalah: “Buddhānubhāvena sotthi hotu“, berarti dengan kekuatan nilai-nilai luhur Buddha, semoga kesejahteraan ada pada Anda/-sekalian, atau dapat disingkat menjadi “Sotthi hotu“, berarti semoga kesejahteraan ada pada Anda/-sekalian. Ditujuk...