Belajar Lemah Lembut dan Baik Hati Dalam Agama Buddha
Kisah Raja Gajah yang Baik Hati
(Jataka 72)
Pada suatu ketika Boddhisattva dilahirkan sebagai seekor gajah. Gajah tersebut berwarna putih cemerlang dan bersinar bagaikan perak yang dipoles. Kakinya mengkilap seperti sebuah kayu yang divernis. Mulutnya merah, bola matanya sangat mengagumkan bersinar dalam lima warna, yaitu biru, kuning, merah, putih, dan merah tua.
Keindahan yang luar biasa tentang gajah yang istimewa ini dibarengi oleh keluhuran budinya yang jujur, bijaksana, sabar, murah hati, penuh cinta kasih, memiliki keyakinan yang benar, dan tidak melekat dengan apa yang dimilikinya. Sifat-sifat ini telah dipraktikkannya sejak kehidupan-kehidupan lampaunya yang tak terhingga. Karena kebaikannya itu, ia dikenal dengan nama Raja Gajah yang Baik Hati.

Ketika gajah ini dewasa, semua gajah lainnya yang berada di hutan datang untuk mengikuti dan melayaninya. Tidak lama kemudian, pengikutnya berjumlah delapan puluh ribu ekor gajah. Sayang, karena jumlah gajah yang begitu besar, membuat mereka mendapat banyak gangguan sehingga untuk dapat hidup lebih tenang, Ia memisahkan diri dari kawanan itu dan hidup sendiri di hutan terpencil.
Suatu ketika, Raja Gajah ini mendengar isakan seorang pengelana yang tersesat dan ketakutan di hutan itu. Sambil berjalan perlahan ke arah pengelana itu, Raja Gajah bertanya, “Wahai manusia, mengapa kamu berkeliaran tanpa tentu arah dan berteriak penuh kepanikan?” “Oh, Tuah Gajah, “ jawab lelaki itu. “Saya kehilangan arah, tersesat penuh keputusasaan dan saya takut jika saya mati karenanya!”

Lalu, Boddhsattva mengajaknya ke tempat tinggalnya. Raja Gajah menjamunya dengan buah-buahan terbaik dan kacang-kacangan, membuatnya nyaman dan terhibur. Setelah beberapa hari, Raja Gajah berkata, “Sahabatku, jangan khawatir, saya akan membawamu ke perkampungan. Duduklah di punggungku.” Kemudian, Raja Gajah mengantarnya menuju perkampungan tempat tinggal manusia.
Setelah keluar dari hutan yang lebat dan mendekati jalan menuju Benares, Raja Gajah yang Baik Hati ini berpesan, “Sahabatku, susurilah jalan ini menuju Benares. Ditanya ataupun tidak, tolong jangan katakan kepada siapa pun tempat tinggalku.” Selesai mengucapkan kata-kata perpisahan, gajah berbudi baik itu kembali menuju tempat tinggalnya yang tersembunyi dan aman.
Baca Juga : Kepandaian Pangeran Siddharta
Komentar
Posting Komentar